SEJARAH PERGURUAN SILAT TADJIMALELA

Perguruan silat tadjimalela
Tadjimalela adalah seorang leluhur Sunda. Selain itu, tak banyak yang mengetahui bahwa Tadjimalela merupakan nama sebuah perguruan silat yang bermarkas di bandung, Jabar. Awal perkenalan kami dengan silat Tadjimalela kala 2 tahun silam. Kami berkunjung ke Abah Iyan (panggilan akrab Alm. R. Iyan Koesoemahdinata, mantan Ketua Umum PS Tadjimalela). Di rumah beliau kami menyaksikan dengan mata kepala kami sebuah demo silat Tadjimalela. Peraganya adalah Kang Cecep (panggilan akrab dari Tjetjep Sadikin, pelatih senior Tadjimalela). Hanya sekitar 10 menit kang Cecep mengeluarkan jurus-jurus Tadjimalela. Gerakannya sangat cekatan, cepat, terarah dan kuat. Wow! Kami semua sebelumnya. Betapa tidak jurus-jurus tersebut sederhana, singkat tapi mematikan. Tak banyak membuang-buang gaya dan waktu. Langsung pada sasaran. Apalagi saat kang Cecep menggunakan kujang pada demo yang menggunakan alat. Kami yang menyaksikan terkesima, tak bicara sepatah katapun. Kami merasakan adanya energi dari gerakan-gerakan silat ini, sangat besar. Kami jadi ikut berpeluh dan ikut penuh semangat. Ini adalah revolusi silat nusantara! Sejak saat itulah kami mencari tahu lebih dalam tentang silat Tadjimalela.


Sejarah Perguruan Silat Tadjimalela

Nama Tadjimalela diambil dari salah nama seorang Raja/Prabu dari kerajaan Sumedang Larang, Jawa Barat. Penggunaanya nama Tadjimalela adalah karena menurut silsilah, R. Djadjat Koesoemahdinata masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarga prabu tersebut. Selain itu nama Tadjimalela didapat melalui proses tafakur dan munajat kehadirat Allah SWT.

Berawal dari ketidak puasan Kang Djadjat dalam mempelajari ilmu silat, yang pada waktu itu hanya diberikan seni ibingnya dari seorang guru pencak, sementara ia menghendaki jurus-jurus praktis yang dapat digunakan jika terjadi perkelahian, maka ia pun terdorong untuk mencari lebih dari apa yang diterimanya.

Hal lain yang mendorong untuk mencari dan mempelajari ilmu silat adalah rasa keperihatinannya melihat perkembangan beladiri asing yang demikian maraknya waktu itu. Padahal pencak silat yang merupakan warisan para leluhur bangsa Indonesia seolah tersisih dan tidak mendapat perhatian, baik dari sendiri maupun dari pemerintah. Kedua hal itu melahirkan suatu cita-cita yang kuat untuk menjadi seorang guru silat yang terkenal, dan menempatkan pencak silat sejajar atau lebih dari beladiri asing yang berkembang khususnya di Jawa Barat.

Cita-cita dan keinginan yang demikian kuat untuk ditindaklanjuti dengan sering mengunjungi tempat-tempat pertapaan. Waktu itu Kang Djadjat meninggalkan rumah selama empat hari. Sesampai di rumah, Kang Djadjat berada dalam keadaan syok, tidak mampu berbicara. Empat hari kemudian barulah ia dapat menceritakan semua kejadian itu kepada kakaknya, R. Iyan Koesoemahdinata, yang menjadi ketua umum Perguruan Silat Tadjimalela pusat.

Pulang dari pengembaraan, beliau sering berlatih di depan cermin cermin. Ia pun mulai mengajarkan beberapa jurus kepada teman-teman dan tetangga terdekat di kawasan Jl.Dulatip, Bandung. Setelah merasa matang dalam jurus-jurusnya, barulah terpikir olehnya untuk mendirikan sebuah perguruan silat. Ia melakukan shalat malam dan berdoa, memohon kepada Allah SWT agar diberikan nama untuk perguruan silat dengan jurus-jurus yang ia ciptakan sendiri. Akhirnya ia mendapat petunjuk agar memberi nama TADJIMALELA kepada perguruan silatnya. Setelah mendapat dukungan dari keempat kakaknya, maka pada tangal 4 Agustus 1974 diresmikanlah perguruan silat Tadjimalela.

Ada tujuh orang yang dianggap sebagai murid pertama, yang dijuluki PASUS (Pasukan Khusus). Mereka adalah :
1. Kang Lili Barli
2. Kang Buci Budiman
3. Kang Nang Syarif Marta
4. Kang Dedi AR.
5. Kang Wahya Sanusi
6. Kang Okky Suryahidayat (Ook)
7. Kang Risman Setia Putra

Setelah bernaung di bawah IPSI 1975, Kang Djadjat mulai mengarahkan jurus-jurusnya ke teknik yang dapat digunakan dan disahkan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam olahraga.

6 Juli 1995 di usia 50 tahun, Kang Djajat pulang ke pangkuan ibu pertiwi. Sebuah pesan yang disampaikannya untuk generasi penerusnya sebelum beliau meninggal : “Tadjimalela Kudu Hirup Sarebu Taun Deui” atau “Tadjimalela harus hidup seribu tahun lagi”.


PANCA DARMA

Kalau R. Djdjat Koesoemahdinata lebih banyak mengajarkan ilmu gerak, maka penggatinya R. Iyan Koesoemahdinata lebih menitik beratkan pembinaan mental spiritual, sehingga Perguruan Silat Tadjimalela ini menjadi perguruan silat yang tidak hanya mengajarkan ilmu gerak saja (olah raga, belaraga,seni budaya), melainkan juga mental spiritual.

Untuk menghindari terjadinya pengkultusan nama Tadjimalela, maka R. Iyan Koesoemahdinata menjabarkannya dalam PANCA DARMA, yang merupakan falsafah bagi bagi anggota Perguruan Silat Tadjimalela sebagai berikut :

PANCA DARMA TADJIMALELA :

TA Taklukan nafsu jahat dalam diri

DJI Djiwa murni pangkal keluhuran budi

MA Mantapkan rasa diri terhadap Tuhan

LE Lekatkan keberanian ditaraf kebenaran

LA Lapangkan rasa kerendahan hati dimata kesombongan

Bagi kebanyakan murid, pengajaran hanya sampai pada tingkat olah raga, bela raga dan seni budaya. Sedangkan inti pengajaran Tadjimalela tidak diberikan pada tiap murid. Karena pemahaman Panca Darma bukan seperti pemahaman silat-silat yang lain. Bukan dengan ilmu kekebalan dsb.Ini berhubungan dengan kesadaran jiwa yang tercukupi, yang matang untuk masuk ke alam diri. Sehingga tidak semua murid dapat masuk sampai pengajaran inti (spiritual) Tadjimalela.

Pesan luhur yang diberikan Abah Iyan pada para penerusnya adalah untuk bakti, menghormati orang tua. Karena itu dasar bagi orang melangkah di bumi.


Prinsip Tadjimalela :

« Batur Usik Urang Anggeus « = « Orang lain bergerak kita selesai «

« Maju terus pantang mundur« = « Cicing (diam) celaka. Mundur Neraka «

LAMBANG TADJIMALELA

  1. Gagak (Gagah & Galak)

Digambarkan burung Gagak siaga dalam lingkaran membentuk segi 5. Ini merupakan gerakan khas Tadjimalela

  1. Dari Gagak menuju ke Maung (Manusia Unggul-Manusia Luhung)

Manusia yang ngeluh kanu Agung. Maksudnya tidak menyalahkan luar diri, namun selalu masuk ke dalam diri dan menghadapi tantangan semua hal yang dihadapi.



Arti Gagak Secara Detil :

Burung Gagak

• Diambil dari salah satu jurus Tadjimalela.

• Memiliki sifat lincah dengan indra penciuman yang tajam.

• Secara psikologis memiliki kharisma magis.

• Warna hitam ( dalam bhs.sunda hideung ) memiliki inisiatif arti.




Bentuk segi lima

• Perguruan Falsafah yaitu Panca Darma.

Lingkaran Dalam Berwarna Oranye

• Melambangkan semangat menjunjung tinggi kebenaran.

• Gambar hati yang terang benderang bagaikan bulan purnama.

Warna Biru

• Setiap gerak tindakan perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Lingkaran Luar

• Melambangkan angka nol (tidak ada) atau tidak adanya pengakuan

• Sikap pasrah/berserah diri

Warna Emas

• Prilaku Panca Darma akan melahirkan manusia yang tak ternilai harganya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Patch terbaru mobile legends